Search

AKS

Tanpa Sastra Aku Bisa Apa?

Feodalisme di Institusi Pendidikan

pict by google.com
pict by google.com

Ada yang tua, ada pula yang muda. Ada sebuah nilai yang dapat dipetik dari pelajaran PPKn sewaktu Sekolah Dasar adalah hormati yang tua-sayangi yang muda. Sebuah nilai mendasar yang telah ditanamkan sedari belia. Menurut saya, pengertian menghormati dan menyayangi terangkum jelas dan menyentuh semua lini. Mungkin dapat dipersepsikan semau sendiri namun tentu harusnya dapat diimplementasikan dalam sistem kemasyarakatan manapun.

Beranjak dewasa mungkin nilai tersebut menjadi bias, bisa saja dikarenakan oleh semakin matangnya pola pikir yang cenderung mengesampingkan hal-hal yang bersifat fundamental atau mungkin juga disebabkan oleh pergolakan batin tiap individu dalam lingkungan setempat.

Dalam kehidupan kampus seringkali kita mengenal suatu strata yang terbentuk alami tiap periodenya. Strata senior dan junior, atau apapun itu namanya semakin tumbuh dan berkembang dari masa ke masa. Suatu hal yang baik apabila tetap memegang teguh nilai menghormati dan menyayangi tersebut. Strata tersebut bukan hanya sebagai suatu pembatas hal yang bersifat prestise. Strata tersebut hanya untuk membedakan tingkatan dalam perkuliahan. Bukan sebagai suatu momok yang menyeramkan. Senior bukan monster yang harus ditakuti, begitupun junior, bukan seorang bayi yang harus selalu dimaklumi.

Tindak-tanduk kasus senior yang sering melakukan “bully” terhadap juniornya sering kita jumpai di kampus atau sekolah manapun. Kasus yang terjadi dari tahun ke tahun hampir di semua institusi pendidikan. Sikap arogansi senior yang menjadikan juniornya menjadi suatu hal yang dapat dipermainkan, ironisnya banyak kasus yang membully juniornya hanya untuk kesenangan semata. Tindak kekerasan untuk kepentingan sosialisasi atau kesenangan semata bukan menjadi alasan agar tindakan tersebut dapat dihalalkan. Ajang kekerasan fisik hanya untuk kaum barbar.

Senior harusnya dapat menjadi seorang guru bagi juniornya. Guru yang dimaksud adalah dapat ”digugu” (dipercaya) dan “ditiru” (menjadi teladan). Bukan hanya sebagai sipir penjara yang semena-mena melakukan kekerasan fisik. Sebagai junior juga sudah seharusnya membuka diri dengan lingkungan dan masyarakat yang baru. Pelajari budaya yang sudah ada.

Kekerasan fisik atau premanisme seharusnya tidak memiliki tempat di institusi pendidikan manapun. Jangan sampai budaya mahasiswa berlomba untuk mendapat predikat cum laude menjadi bergeser akibat premanisme, akhirnya mahasiswa berlomba untuk menjadi siapa yang paling kuat, mahasiswa menjadi sibuk, bukan karena sibuk diskusi tentang ribuan literatur, tapi justru sibuk menyelamatkan diri sendiri dari kepalan tangan preman kampus. Jangan tunggu sikap premanisme menjadi sebuah budaya yang mengakar kuat di pondasi lingkungan akademis.

Semoga tulisan ini menjadi renungan buat kita semua…

Memendam Rasa

ada orang-orang yang aku benci sepanjang hidup
jangankan untuk berdialog,
melihatnya aku enggan.
orang-orang seperti itu yang aku nantikan kematiannya
aku gembirakan isak tangisnya
aku sedihkan kesuksesannya.
orang-orang seperti itu yang aku perjuangkan kesengsarannya
dan aku hapuskan budi baiknya.

sepanjang hidupku aku banyak mendendam kebencian
terhadap mereka yang membentak ibunya
mereka yang menginjak leher saudaranya
mereka yang senantiasa merusak lingkungan
mereka yang menghisap darah saudaranya
mereka yang berbohong demi keselamatannya
dan mereka yang berupaya melakukan pencucian budaya

bagiku orang seperti itu halal diminum darahnya
halal untuk dipanggang dagingnya
halal untuk didoakan kematiannya
halal untuk dirajam kepalanya

tak ada baiknya dari sifat mendendam
tak ada baiknya dari sifat membenci
tak ada salahnya untuk selalu mengasihi
dan selayaknya berpura-pura tak pernah tersakiti.

Pahlawanku Membatu

Membatu berarti bukan lagi menjadi suatu benda hidup.
Membatu berarti statis tidak bergerak.
Membatu berati beku dan kaku tak mudah dipindah.
Membatu berarti diam tak bersuara.

Pahlawanku jadi batu.
Pahlawanku jadi hantu.
Pahlawanku mati lampu.
Pahlawanku mengharu biru.

Blow Kiss Not Fire

A kid that i saw at Fatahillah museum last month was involved to a traditional performance called “kuda lumping”. this kid was played with the other member of the show by blowing fire. i thought that was so cruel. i think, we as older people should not allow the kid to play with fire. tha’s so dangerous.

Punggungmu Mulai Pudar Kemudian Hilang

Senantiasa aku mengamati punggungmu. Punggung yang awalnya tak pernah ada, perlahan muncul dengan sendirinya, semakin jelas semakin kentara, kemudian perlahan memudar dan selebihnya benar-benar hilang tanpa pesan.
Jarang sekali aku melihat sinar matanya yang tajam dihiasi barisan bulu mata yang begitu lentiknya. Pernah sesekali kami bertabrakan pandang. Pernah sesekali kami saling melihat kemudian saling melempar senyum. Ya hanya tersenyum kemudian kembali menoleh. Kembali melihat apa yang dari awal terlihat. Tanpa peduli apa dan siapa yang disenyumi barusan.
Kembali aku hanya bisa memandang punggungnya yang semakin lama semakin pudar. Pudar termakan jarak yang semakin lama semakin jauh terasa. Pudar termakan usia. Pudar tertutup polusi ibu kota. Kemudian hilang, akibat pernyataan para ahli yang menyebutkan bahwa bumi itu bundar. Punggung yang awalnya besar semakin lama mengecil menjauh kemudian hilang begitu saja. Tanpa menoleh atau mengucap sayonara. Bagaimana mungkin? Diawal perjumpaanpun kami tak saling mengucapkan salam perjumpaan. Biarlah, bumi itu bundar. Saat kita berjalan lurus kita akan kembali ke posisi semula. Ya! Semoga saja.

Aku Tak Bisa Baca Tulis

Aku tak bisa menulis
Aku tak bisa membaca
Aku tak mengerti apapun
Aku tak merasa apapun

Aku tak bisa melihat
Aku tak bisa mendengar
Aku tak bisa merasa
Aku tak bisa menggenggam

Bagaimana mungkin aku bisa mengertimu?
Bagaimana mungkin aku bisa mengenalimu?
Bagaimana mungkin aku bisa merasamu?
Karena kau tak pernah ucap sesuatu

Aku tak punya indera, bagaimana mungkin aku bisa belajar?
Ribuan kamu di logika
Ribuan kamu di kepala
Ribuan kamu dibalik rusuk
Ribuan kamu…

Pernah aku mengutip sebuah kalimat, “apabila tak ada bahu untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud.”

Ribuan kamu di dalam batin
Menyerang logika dan perasaan
Sayangnya kamu tak merasakan
Ada ribut besar di Colloseum batinku

Aku tak punya indera, setidaknya aku punya kamu…

Seorang gadis Jawa adalah sebutir permata, bila ia pendiam tak bergerak-gerak seperti boneka kayu; bicara hanya bila benar-benar perlu dengan suara berisik, sampai semutpun tak mampu mendengarnya; berjalan setindak demi setindak seperti siput: tertawa, halus tanpa suara tanpa membuka bibir; sungguh buruk nian kalau giginya nampak; seperti “luwak”. Pramoedya Ananta Toer – Panggil Aku Kartini Saja – at meong depan kampus moestopo

View on Path

Pada Semesta Kutitip Kamu

Aku menemukanmu dalam tiap seruput kopi hitam yang baru saja dituangkan air panas. Panas dan manis serta masih terdapat banyak ampas kopi yang meramaikan mulutku. Membuat rongga mulutku ramai tanpa suara dan aksara.

Aku menemukanmu dalam tiap sengat matahari yang menjadi pendampingku dalam perjalananku ke entah berantah. Mataharinya begitu menyengat, membuat sekujur tubuhku tertutup peluh dan semakin kering akibat dehidrasi begitu hebatnya. 

Aku menemukanmu dalam tiap latunan irama yang terdengar begitu tipis sehingga mampu mengantarku ke dunia semu. dunia dimana mataku terpejam dan hanya gelombang dalam otakku yang bekerja. 

Aku menemukanmu dalam tiap rangkai akasara yang terangkai berbaris satu persatuaku menjadi sebuah kalimat bahkan paragraf yang senantiasa menyerbu alam bawah sadarku.

Aku menemukanmu dalam tiap kilat yang menggelegar, nampaknya bukan hanya aku yang dibuatnya pucat, langit menampakkan dirinya lebih pucat daripada wajahku yang meringkuk ketakutan.

Aku menemukanmu dalam tiap waktu aku merasakan badanku menggigil setengah mati hampir kaku. Saking kakunya aku sampai tak mampu merasakan detak jantungku. Namun aku bersembunyi di balik ketiakmu yang hangat, sehingga aku kembali dapat merasakan detak jantungku.

Aku senantiasa berucap mengenai kebaikan untukmu. Aku meminta pada Tuhan untuk selalu mendengar tiap doamu. Aku tak mampu mengunjungimu setiap waktu. Dan akupun tak mampu menghujanimu dengan tiap rangkaian irama merdu untukmu. Oleh karena itu aku selalu titipkan kamu, bukan pada siapapun. Aku menitipkan kamu pada semesta yang senantiasa dapat menemanimu kemanapun kakimu melangkah. Sekali lagi kuucapkan, aku titipkan kamu pada semesta.

Jrx SID and Ecodefender in Action

Blog at WordPress.com.

Up ↑