Teori Komunikasi

images (5)

1. Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)

Teori atau pendekatan perbandingan siosial mengemukakan bahwa tindak komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya kebutuhan-kebutuhan dari individu untuk membandingkan sikap, pendapat dan kemampuannya dengan individu-individu lainnya.

Dalam pandangan teori perbandingan social ini, tekanan seseorang untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya akan mengalami peningkatan, jika muncul ketidaksetujuan yang berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa, kalau tingkat pentingnya peristiwa tersebut meningkat dan apabila hubungan dalam kelompok (Group Cohesiveness) juga menunjukkan peningkatan. Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat, para anggota kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi yang mendukung atau membuat individu-individu dalam kelompok lebih merasa senang dengan keputusan yang dibuat tersebut.

Sebagai tambahan catatan, teori perbandingan social ini diupayakan untuk dapat menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari para anggota kelompok mengalami peningkatan atau penurunan.

Contoh: Proses pertukaran informasi yang terjadi dalam suatu kelompok didasari dengan adanya perbedaan pendapat atau informasi dalam tiap-tiap anggota kelompoknya. Dinamika yang terjadi dalam suatu kelompok terjadi dengan adanya proses pertukaran informasi atau persamaan pendapat.

2. Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)

Teori pertukaran social ini didasarkan pada pemikiran bahwa seseorang dapat mencapai suatu pengertian mengenai sifat komplek dari kelompok dengan mengkaji hubungan diantara dua orang (Dyadic Relationship). Suatu kelompok dipertimbangkan untuk kumpulan dari hubungan antara dua partisipan tersebut.

Perumusan tersebut mengasumsikan bahwa interaksi manusia melibatkan pertukaran barang dan jasa, dan bahwa biaya (cost) dan imbalan (reward) dipahami dalam situasi yang akan disajikan untuk mendapatkan respons dari individu-individu selama interaksi social. Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri atau individu-individu yang terlibat akan mengubah perilaku mereka untuk melindungi imbalan apapun yang mereka cari.

Pendekatan pertukaran social ini penting karena berusaha menjelaskan fenomena kelompok dalam konsep-konsep ekonomi dan perilaku mengenai biaya dan imbalan.

Contoh: Setiap anggota kelompok adalah perwakilan atau pembentukan citra atas kelompoknya. dan sebaliknya, citra kelompok melekat pada anggotanya.

3. Teori Sosiometrik (Sociometric Theory)

Sosiometri merupakan sebuah konsepsi psikologis yang mengacu pada suatu pendekatan metodologis dan teoritis terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelmpok yang merasa tertarik satu sama lain akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi, sebaliknya individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang melaksanakan tindak komunikasi.

Tataran atraksi atau ketertarikan dan penolakan (repulsion) dapat diukur melalui alat tes sosiometri, dimana setiap anggota dinyatakan untuk memberi jenjang atau rangking terhadap anggota-anggota lainnya dalam kerangka ketertarikan antarpribadi (interpersonal attractiveness) dan keefektifan tugas (task effectiveness). Dengan menganalisis struktur kelmpok pola melalui sosiometrik ini, seseorang dapat menentukan bagaimana kelompok yang padu dan produktif yang mungkin terjadi.

Contoh: Semakin tertarik seseorang dengan orang lain, maka akan semakin banyak komunikasi yang akan terjadi. Pembicaraan secara intim dan mendalam terjadi pada saat hubungan seseorang terjadi lebih dari sekedar tertarik.

4. Teori Disonansi Kognitif

Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut.

Asumsi:

Teori disonansi kognitif memiliki sejumlah anggapan atau asumsi dasar diantaranya adalah:

1. Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya. Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi.

2. Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi biologis. Teori ini merujuk pada fakta-fakta harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif.

3. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur. Teori ini menekankan

seseorang yang berada dalam disonansi memberikan keadaan yang tidak nyaman, sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari ketidaknyamanan tersebut.

4. Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk

mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.

Contoh: Manusia sebagai makhluk intelektual senantiasa mencari dan bertahan pada zona nyaman atau hal yang mereka sukai. Saat mereka menemukan suatu ketidaknyamanan, maka mereka akan senantiasa pergi dari hal tersebut.

Jakarta, 23 Maret 2013

Atik Kencana Sari

Universitas Prof. Dr. Moestopo (Breagama)

2011-41-252

Daftar Pustaka:

Teori Komunikasi

S. Djuarsa Sendjaya, Ph.D., dkk

Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Januari 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s