Terima dan Kasihku untuk Kamu

Banyak orang yang mengira bahwa aku adalah seorang gadis yang tak pernah peduli dengan apa yang kurasa dan yang kulihat. Tak salah memang. Ya itu aku, seorang mahasiswi tingkat awal sebuah Universitas ternama di pusat ibukota. Sedari kecil aku dipanggil Intan dan sedari lahir hingga sekarang namaku tercatat di kartu identitas sebagai Intan Maharani. Ya, terlintas sosok gadis berperawakan asli tanah jawa yang tak terlalu cantik seperti bidadari dalam kisah dongeng. Badannya mungil, tinggi sekitar 165cm dan kulit asli peranakan jawa.

Tak terlalu lama aku memasuki dunia penuh pergulatan di perguruan tinggi, aku dikenalkan pada seorang pria yang awalnya cukup kuhindari bahkan hanya untuk berpapasan di jalan. Bukannya aku tak mau, tapi aku segan cenderung lebih merasa takut untuk bertemunya. Pria itu mahasiswa tingkat akhir di universitas yang sama denganku. Namanya Joddy Darmawan. Perawakannya tak seperti pria pada umumnya yang cenderung memperhatikan penampilan. Ya, kurang lebih seperti anak punk yang selalu memakai baju berantakan, celana penuh emblem dan sobekan, serta rambut mohawk yang tingginya kurang lebih 10-15 cm. Itulah yang membuatku sedikit segan untuk bertemunya.

Tapi sepertinya pria ini berbeda, oke stop berbicara soal penampilannya. Itu sama sekali tak menjamin bagaimana dia sebenarnya. Ada satu hal yang membuatku terkejut saat pertama kali berbicara dengannya. “Rumah lo di daerah ciledug ya? Lo pasti anak ketiga dan kakak lo cowok semua. Abang lo alumni sini kan?”. Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat aku merasa heran. “Hey, kok lo bisa tau tentang gue sampai ke keluarga gue padahal ini pembicaraan kita pertama kali”. Astaga, jangan-jangan dia intel.

Musim penghujan masih menghantui. Dan sejak perbincangan misterius itu aku jadi penasaran akan sosoknya. Pria yang terlihat amat cuek tapi kenapa dia bisa tau sedetail itu tentangku. Pertanyaan itu masih ada hingga saat ini. Dan pada akhirnya, kami mulai intens bertemu. Mulai intens bertukar kabar. Hingga akhirnya pada hari jumat 20 januari 2012 di sebuah kedai kopi di sekitar kampus kami memutuskan untuk menjalin sebuah ikatan untuk lebih dekat, lebih dari sekedar teman. Walaupun aku sempat ragu akan dirinya apalagi penampilannya. Namun aku mencoba untuk menerima apa adanya, walau kutau orang tuaku akan sulit menerimanya.

Hari berlalu nampaknya semakin indah, karena kutemukan seseorang yang bisa menjagaku dari kerasnya bangku kuliah. Seketika aku merasa cukup beruntung memilikinya. “Aku bersyukur memiliki kamu, Tan. Kamu gak seperti cewek-cewek lain yang suka nuntut ini itu. Jangan tinggalin aku ya, Tan”. Memiliki seseorang yang sama-sama saling membutuhkan support akan masa depan. Aku dan Joddy hampir tak pernah peduli dengan apa yang orang katakan. Entah dari teman-temanku yang tak setuju akan hubungan ini, entah pandangan miring tentangku yang hanya mencari eksistensi, atau pandangan lain yang beranggapan bahwa aku cari sosok backing-an. Hal ini pernah ku bahas dengan Joddy, dan dia tak peduli sama sekali dengan omongan-omongan sampah seperti itu. Dan nampaknya dia siap pasang badan untuk menghadapi orang seperti itu.

Bicara soal keberuntungan mungkin aku manusia paling beruntung, memiliki seseorang yang menyayangiku, mengasihiku, dan menjagaku lebih dari orang lain. Dan diapun sempat mengutarakan keberuntungannya akan memiliki diriku yang berbeda dengan gadis lainnya. Entah dimana bedanya mungkin hanya beliau yang bisa mengutarakannya. Bicara soal menjaga, Joddy pernah menjagaku saat ku tidur padahal dia dalam keadaan mabuk berat dan sempat tak sadarkan diri beberapa saat akibat minuman alkohol. Joddy menyiapkan alas tidur untukku dan beliau tidur tepat disampingku. Momment itu yang sampai kini masih berkesan sangat hebat dalam hidup ini.

Hampir seratus hari kulalui bersama pria yang beda usia 9 tahun denganku. Akupun menyadari bahwa beban yang beliau pikul cukup berat, entah apa itu tapi satu hal yang kutau bahwa tugas skripsinya mulai terbengkalai. “Aku gak usah nerusin skripsiku ya, Tan. Biar aja aku gak lulus. Aku capek mikirin semuanya”. Terus terang aku kecewa mendengarnya. “Hey bodoh! Ini udah diujung. Kamu tinggal nerusin skripsimu. Kalo emang gak mau lulus kenapa gak dari awal. Percuma kamu kuliah udah lama tapi kamu nyerah diujung. Aku dan teman-teman kamu pasti bantu kok, Jod”. Entah apa yang dipikirkan pada saat kuucapkan itu dengan intonasi yang cukup tinggi. Namun tak lama setelah itu beliau menghilang dari peredaran.

Seminggu aku tak dapat kabar darinya. Entah dia ada dimana namun aku yakin dia sedang berusaha untuk menenangkan pikirannya. Setelah seminggu dia balik lagi ke kampus, tempat dia tinggal bertahun-tahun ini. Setelah beberapa hari bertemu, kembali dia menghilang dari peredaran selama 2 minggu. Saat itu jujur aku merasa nelangsa. Hampir seperti tak ada dan tak dianggap. Namun entahlah, ada saja hal yang berdampak pahit akan keadaan seperti ini. Saat dia kembali, entah mengapa tak kuasa aku melontarkan kata-kata emosi untuknya. Saat itu aku hanya bisa diam, tersenyum, menghela napas dan entahlah campur aduk yang kurasakan. Bagaimana mungkin aku marah kepadanya. “Maaf sayang aku kembali pergi tanpa memberimu kabar terlebih dahulu. Entahlah apa yang kulakukan. Maaf aku tak bermaksud menyakiti hatimu”. Bagaimana mungkin aku tetap emosi akan keadaan seperti itu saat dia ucapkan sesuatu seraya mengecup keningku. Bumi rasanya berputar 180 derajat. Emosiku hilang seketika saat itu. Yang muncul hanyalah rasa bahagia ketika dia masih mengingatku untuk mengecup keningku seperti itu. Tak lama setelah dia kembali padaku, kembali dia meninggalkanku selama 3 minggu. Entah apa lagi yang dia lakukan. Mungkin dia sibuk menyelesaikan skripsinya. Bila memang itu keadaannya aku ikhlas walaupun aku tak tau ikhlas itu apa dan bagaimana. Setelah 3 minggu hilang, pria bertato lambang anarki di dada kirinya itupun kembali. Jujur aku merasakan kekecewaanku padanya.

Sempat aku membuat sebuah video testimoni dari kawan-kawannya untuk memberikannya semangat agar menyelesaikan skripsinya. Aku tak ingin dia melihat perjuanganku, tapi aku ingin menunjukkan bahwa kawan-kawannya ingin dia menyelesaikan tugas akhirnya. Namun, video itu tak kuselesaikan sampai selesai. Dan sampai saat ini mungkin dia tak pernah tau tentang video itu. “Aku bingung, Jod harus mementingkan apa. Apa aku harus mementingkan ego perasaanku atau aku harus mementingkan skripsimu. Bila aku harus mementingkan skripsimu, aku berikan waktu kamu untuk sendiri menyelesaikan skripsimu tanpa perlu kau peduli akan perasaanku. Yang perlu kau tahu, aku tetap disini menanti kabar gembira darimu saat kau kembali. Tak perlu kau memberi suatu kabar untukku. Tak perlu kau memikirkan aku. Asalkan saat kau kembali kau memberiku kabar bahagia bahwa skripsimu telah selesai”. “Intan sayang, entahlah. Aku mau mementingkan keduanya. Aku ingin tetap memikirkanmu dan tetap menyelesaikan skripsiku. Maaf bila kau tak suka dengan caraku. Maaf mungkin aku telah mengecewakanmu. Namun, tetap aku ingin melihatmu bahagia atas pencapaianku. Maafkan aku, sayang”.

Ucapan seperti itu sontak membuatku kembali kuat menjalani semuanya. Banyak teman-temanku yang memintaku untuk ambil sikap untuk keadaan seperti ini. Namun aku masih sangat yakin bahwa penantianku pada akhirnya akan membuahkan hasil. Aku percaya bahwa tak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Setiap apapun usaha yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil. Soal hasil itu adalah urusan Tuhan. Namun yang kusesali adalah timbul beberapa perubahan sikap pada dirinya semenjak pria itu menghilang selama beberapa minggu. Mulai dia tak peduli kepadaku. Tak lagi seindah dulu, entah seperti apa yang dia rasakan. Mulai saat itu aku merasakan perang batin yang kuat pada diriku. Hampir aku menyerah namun perasaanku masih begitu kuat dan yakin akan dirinya.

Matahari dan bulan berganti belasan kali, sampai saat itu aku masih merasakan gejolak dalam batinku yang begitu kuat. Aku merasakan begitu sendiri, nelangsa, hilang isi. Sampai pada akhirnya aku tak kuasa lagi melawan perang batin ini sendirian. Aku merasakan ketidakadilan terhadap keadaan ini. Ketidakadilan ini akan perasaan yang begitu kuatnya namun aku tak kuasa mengungkapkannya.

Tak satupun kata yang dapat kuucapkan saat ku bersamanya. Aneh memang ketika emosiku seketika hilang saat ku melihatnya. Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku. Hingga pada suatu malam di pertengahan oktober 2012 kami menyempatkan waktu untuk bicara berdua. Saat itu aku sangat merasakan perang dalam batinku sendiri. Akhirnya akupun mengutarakan padanya bahwa aku tak kuasa lagi berperang batin sendirian. “Maaf ya, Tan. Sepertinya kita gak bisa lagi menjalin hubungan ini. Aku gak mau kamu merasakan seperti ini. Membiarkanmu berperang sendirian. Aku tau bahwa keluargamu tak akan bisa menerima aku. Butuh waktu bagiku untuk merubah diriku dan itu tak sebentar. Aku tau kamu begitu sayangnya terhadapku. Dan akupun begitu mencintaimu. Ini bukan salahmu yang tak bisa membawamu ke keluargamu. Namun aku memang tak yakin untuk itu. Maaf bila kau tak suka dengan caraku yang perlahan mundur dari kehidupanmu. Aku begitu menyayangimu. Maafkan aku. Tapi aku mau kamu janji satu hal, Tan. Janji ya kamu akan mendampingiku saat aku wisuda nanti. Disitulah pencapaianku. Akupun tak tau siapa lagi yang mau mendampingiku wisuda nanti. Tolong janji hal itu, Tan. Dan kau jangan khawatir. Kita masih bisa bertemu setiap hari. Aku selalu disini untuk mendengarkan semua ceritamu. Aku tak akan kemana-mana. Jangan sedih ya, Tan”.

Tak pernah aku mendengar suaranya dengan nada selirih itu. Tak ada sepatah katapun terucap setelah dia mengucapkan seperti itu selain air mata yang turun dari ujung mata kami berdua. Tangan tergenggam erat seakan tak mau lepas. Seakan itu hari terakhir kami bertemu. Kecupan manis tak henti-hentinya mendarat di keningku. Aku tak bisa berkata lagi. Ya, aku memang menyesal tak pernah mencoba membawanya kerumah menemui keluargaku. Menyesal sedemikian hebat sampai dadaku terasa begitu sesak. Langit seakan runtuh dan bintang serasa redup. Bagiku mungkin ini pertanda kiamat.

Demi langit dan matahari aku merasakan napasku sesak semenjak malam itu. Badanku serasa lemas. Berat badanku menurun drastis dan entah mengapa aku tak bisa mengendalikan pikiranku. Sampai pada suatu malam aku berbincang dengan orang tuaku. Aku menanyakan kriteria seperti apa yang mereka inginkan untuk menjadi pendampingku. Semua kriteria yang mereka sebutkan ada di pria kelahiran 1 maret 1984 ini. Sampai akhirnya aku ceritakan tentang kisahku dengan Joddy. “Memang kamu sudah cinta dengan Joddy, nak? Kalau kau sudah sampai menangis seperti ini berarti tandanya kau sudah mencintainya. Tenang saja, nak. Apabila Joddy memang jodohmu pasti dia akan kembali padamu. Sudahlah, ibu tidak mau melihatmu bersedih seperti ini. Rupanya hal ini yang membuatmu selalu berdiam diri. Tuhan itu tidak pernah tidur dan pasti selalu mendengar doamu”. Ucapan ibu seperti tadi membuatku sedikit lega, namun bertambah pilu. Memang aku tak berharap banyak akan restu ibuku. Paling tidak ibuku mengerti gejolak apa yang ada dalam diriku.

Mulai dari malam itu ibu selalu menanyakan soal Joddy. Yang kulihat mulai muncul rasa simpatik akan pria bertato ini. Menanyakannya setiap malam, entah menanyakan hubunganku dengannya atau menanyakan soal skripsinya. Ada rasa senang akan hal itu. Senang yang mendalam. Namun ada rasa sesal mengapa tak kulakukan hal ini sedari dulu. Seandainya hal tersebut pernah kulakukan siapa tau hubungan ini dapat berjalan dengan baik. Entahlah apa rencana tuhan. Namun ketika memang Joddy bukan tercipta untukku, paling tidak aku telah cukup bahagia bersamanya selama 268 hari. Memang tak cukup waktu untuk mengembalikan semua kepada keadaan semula. Akupun tak tau akan keadaan di masa nanti. Ketika memang aku sudah berusaha dan dia juga sudah berusaha, selanjutnya biarkan Tuhan lebih bekerja keras menyelesaikan semuanya.

Tak cukup mudah kujalani hariku tanpa kehadiran Joddy. Walaupun kami bertemu setiap hari tapi tentu keadaan itu semakin membuatku terhimpit karena kesedihan melihat raut wajahnya. Tak bisa lagi kusentuh wajahnya ketika dirinya terlelap. Tak bisa lagi ku rangkul pinggulnya ketika sedang jalan bersama. Tak bisa lagi ku menyuapinya ketika dia sedang malas makan. Tak bisa lagi, semua tak bisa. Mungkin bisa, namun nampaknya hanya di dalam mimpi.

Sepucuk surat menghantarkan kepergianmu. Hanya sepucuk…

Joddy…

Semua gak akan ada yang tau apalagi mengerti peperangan apa yang terjadi di batin ini. Semua cuma bisa bilang sabar dan menyerukan kalimat perubahan. Semua cuma bisa bilang dan menyerukan untuk ambil hikmahnya. Hal yamg memamng wajar dan sering terjadi karena mereka tak mengalami hal yang sama dan mereka tak mempunyai batin yang sama sepertiku.

Maafku untuk semuanya…

Maaf aku tak bisa menyembunyikan raut wajah sedihku. Maaf aku tak bisa berbuat banyak untukmu. Maaf aku tak bisa memberikan apa yang selayaknya kau dapat. Maaf aku hanya bisa cemburu saat tawa dan tangismu tak kau hadirkan bersamaku. Maaf aku tak bisa menghentikan perasaan ini. Biarlah batin ini yang berperang sendirian.

Sejujurnya, besar harapanku akan dirimu dan diri kita. Tapi aku hanya bisa duduk terdiam melihat punggungmu yang lama kelamaan perlahan menghilang. Tanpa bekas.

Aku senang melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada dirimu. Kau mulai sering mandi pagi dan kau mulai bisa membatasi berapa banyak alkohol yang boleh masuk ke dalam tubuhmu. Kau menyelesaikan skripsimu pada tenggat waktunya. Kau yang sibuk dengan persiapan sidang kelulusanmu. Semangatku untuk mempertanyakan perlengkapan sidangmu walaupun jawabanmu untuk hal itu selalu seadanya. Dan sejujurnya aku begitu bersemangat pada saat kau sidang. Membangunkanmu, menyiapkan sarapanmu, menemanimu menanti giliran sidang, menunggu di depan ruang sidang. Berharap aku orang pertama yang kau temui saat kau menyandang gelar S.Ikom. Sampai pada akhirnya kau berucap terima kasih seraya memeluk tubuhku.

Kaupun tau, pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan dirimu kepada orang tuaku. Menceritakan perjalanan kita selama 268 hari lalu. Awalnya, ibuku belum bisa menerima dirimu. Tapi nampaknya beliau mulai luluh dan iba melihat putri kecilnya berperang batin sendirian.

Hidupku dan hidupmu masih panjang dan tentu mempunyai suatu tujuan. Kalaupun kau temui garis finish itu duluan dan ternyata bukan denganku, aku sudah cukup bahagia telah hidup bersamamu selama 268 hari.

Joddy, kau adalah pria yang baik dan sudah pasti mendapatkan orang yang baik. Kalau ternyata orang baik itu bukanlah diriku, maka aku bukanlah orang yang cukup baik untuk dirimu.

Jod, sebenarnya ini bukan soal kepergianmu. Bukan itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan bahwa kepergian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati. Hatiku seperti tak ditempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Namun, mungkin memang sudah menjadi jalan kita untuk kembali sendiri-sendiri. Kau dulu tiada bagiku, dan sekarang kembali tiada. Aku bahagia telah diberikan waktu untuk mengenalmu lebih. Pergilah Jod. Aku pun akan pergi. Bukan untuk benar-benar pergi. Paling tidak, cukup hubungan persaudaraan yang akan mempererat kita.

Terima kasih, Jod untuk segalanya yang telah kau berikan.

Dengan surat ini aku meyakinkanmu bahwa aku telah bangkit. Bahwa aku tak terpuruk lagi. Meskipun aku tak tau takaran ikhlas itu seperti apa dan bagaimana, namun aku ikhlas melepasmu. Dengan itu kau akan lebih bahagia.

Kita tetap berjumpa, walau tak ada hati yang berperan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s