Ini lebih dari sekedar rasa hangat saat aliran darah mengalir dari nadi menuju jantung. Ini juga lebih dari rasa kau seperti terpelanting dari lantai 36 sebuah gedung yang tak selesai dibangun. Dan ini juga lebih dari sekedar rasa panas saat kau tersedak seseruput kopi di pagi hari yang membuat lidahmu melepuh. Hanya saja hal itu terlalu membuat lidahku kelu untuk sekedar berucap hal serupa denganmu.

Tentu saja banyak rasa yang tak mampu diterjemahkan oleh lidah dan hati agar kalian mengerti, banyak juga kejadian yang tak mampu direka ulang oleh polisi agar semua memahami. Hal-hal yang tak sebanding dengan kenyataan yang berbanding terbalik akan konotasinya.

Tentu saja aku bukan hanya subjek yang menjadi topik pembicaraan antara kamu dan batinmu setiap harinya. Tentu saja banyak dia-dia yang lain yang merasuki relung sukmamu entah seberapa dalam. Entah siapa saja dan entah lebih dalam siapa. Perkara yang tidak mudah untuk mengetahuinya. Bahkan sulit dan terlampau sulit.

Entah aku berhak untuk cemburu atau tidak.
Entah aku berhak untuk cemburu atau tidak.
Dan, entah aku berhak untuk cemburu atau tidak.

Aku mengalami sebuah rasa yang tak mampu diterjemahkan dalam rangkaian aksara. Rasa yang kira-kira mampu membuat aliran darahku melaju begitu cepatnya, namun terkadang aku merasa seperti jantungku berhenti memompa. Rasa yang bisa membuat otakku berhenti bekerja. Rasa yang bisa membuat mataku seketika terbelalak hebat. Entah ini bisa diterima oleh akal sehat atau tidak. Secara sederhana, anggap saja aku cemburu. Walaupun pada dasarnya aku tak memiliki hak untuk itu.

Aku cemburu pada satu. Aku cemburu saat kau mampu meluangkan waktumu untuk bersamanya menonton sebuah pagelaran musik di bulan penuh rahmat itu. Aku cemburu saat kau relakan tubuhmu menggigil hanya untuk membuatnya tetap hangat. Aku cemburu saat kau menatapnya sebagai anak kecil walaupun dia sudah lebih dewasa daripada aku. Aku cemburu saat barang kesayanganmu dipegang olehnya. Aku tetap cemburu

Aku cemburu pada dua. Aku cemburu saat kau luangkan waktumu hanya untuk mendengarkan keluh-kesah berisiknya di pinggir jalan ibu kota. Aku cemburu saat kau berbagi tembakau dengannya karena tembakau yang kau gunakan mempunyai merek yang sama. Aku cemburu saat kau berusaha menguatkan telingamu hanya untuk mendengarkan cerita-ceritanya yang menurutku tak penting. Aku cemburu saat kau mengantarnya pulang ke rumah walaupun hanya sampai tikungan depan. Aku cemburu saat kamu berbagi taksi dengannya walau ku tau kalian mempunyai tempat tujuan yang berbeda.

Aku cemburu pada tiga. Aku cemburu saat kau mampu duduk berdua berjam-jam entah apa topik pembicaraanmu. Aku cemburu saat kau duduk berdampingan di mobil sesaat setelah kau ke pusat perbelanjaan. Aku cemburu saat kau selalu sigap untuk memperhatikan ponsel layar sentuhmu. Aku cemburu saat kutau kau mendapat telpon darinya. Aku cemburu saat kau selalu pasang mata, telinga, tangan dan kaki untuknya. Aku cemburu saat kau membelikannya balsem saat kakinya terkilir. Aki cemburu saat tak sengaja kudengar percakapan kalian dengan ”aku-kamu”. Aku cemburu saat kau menyediakan waktu untuk sekedar ngobrol dengannya sebelum tidur. Aku cemburu saat dia minta pertolonganmu walaupun itu hal kecil dan seharusnya bisa dilakukannya sendiri.

Aku menyadari hal-hal diatas merupakan hal kecil dan sepatutnya tak perlu kujadikan topik pembicaraan antara aku dan batinku.
Anggap saja itu hanya menjadi sebutir debu yang hinggap di mataku saat aku mengendarai sepeda motor tanpa pelindung mata. Rasanya memang tak nyaman bahkan cenderung perih. Pada saat itu aku harus menepi untuk membersihkan mataku dari sebutir debu tersebut dan kembali melaju.

Pada akhirnya muncullah sebuah pertanyaan, apakah aku berhak untuk cemburu atau tidak?

Tentu saja aku dan kamu disini bukan merupakan dua objek yang perlu ditanyakan ”siapa”. Ini cerita dari seorang kawan yang enggam untuk menuliskan secara langsung.

Advertisements