Terdesak dan Terperosok

Ke kanan aku terdesak
ke pinggir aku terperosok
Ke utara aku seperti di madura
Ke selatan aku seperti di kelantan

Aku berdiri hanya dengan satu kaki
Aku berjalan diiringi satu tangan
aku melihat hanya dengan satu mata
Dan aku berbicara tanpa lidah yang berirama

Dalam hampir setiap duri yang menancap
Pada setiap langkah yang kutiti
Dalam setiap puntung rokok disamping sendal
ada hembusan nafas bersama wangi ketiakmu disitu

Aku terbiasa tidur tanpa beha
Aku juga terbiasa bernafas tanpa wangi ganja
Akupun sangat terbiasa membiarkan paru-paruku hidup berdampingan dengan polusi
akupun akan terbiasa menikmati cahaya bulan sendiri

Demi dewa-dewi
Aku bersabda bahwa manusia lahir sendiri – dan matipun sendiri.
Bukan soal idividualisme yang hebat terpatri
Tapi perkara soal ke-satu-an diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s