Aku menemukanmu dalam tiap seruput kopi hitam yang baru saja dituangkan air panas. Panas dan manis serta masih terdapat banyak ampas kopi yang meramaikan mulutku. Membuat rongga mulutku ramai tanpa suara dan aksara.

Aku menemukanmu dalam tiap sengat matahari yang menjadi pendampingku dalam perjalananku ke entah berantah. Mataharinya begitu menyengat, membuat sekujur tubuhku tertutup peluh dan semakin kering akibat dehidrasi begitu hebatnya. 

Aku menemukanmu dalam tiap latunan irama yang terdengar begitu tipis sehingga mampu mengantarku ke dunia semu. dunia dimana mataku terpejam dan hanya gelombang dalam otakku yang bekerja. 

Aku menemukanmu dalam tiap rangkai akasara yang terangkai berbaris satu persatuaku menjadi sebuah kalimat bahkan paragraf yang senantiasa menyerbu alam bawah sadarku.

Aku menemukanmu dalam tiap kilat yang menggelegar, nampaknya bukan hanya aku yang dibuatnya pucat, langit menampakkan dirinya lebih pucat daripada wajahku yang meringkuk ketakutan.

Aku menemukanmu dalam tiap waktu aku merasakan badanku menggigil setengah mati hampir kaku. Saking kakunya aku sampai tak mampu merasakan detak jantungku. Namun aku bersembunyi di balik ketiakmu yang hangat, sehingga aku kembali dapat merasakan detak jantungku.

Aku senantiasa berucap mengenai kebaikan untukmu. Aku meminta pada Tuhan untuk selalu mendengar tiap doamu. Aku tak mampu mengunjungimu setiap waktu. Dan akupun tak mampu menghujanimu dengan tiap rangkaian irama merdu untukmu. Oleh karena itu aku selalu titipkan kamu, bukan pada siapapun. Aku menitipkan kamu pada semesta yang senantiasa dapat menemanimu kemanapun kakimu melangkah. Sekali lagi kuucapkan, aku titipkan kamu pada semesta.

Advertisements