Senantiasa aku mengamati punggungmu. Punggung yang awalnya tak pernah ada, perlahan muncul dengan sendirinya, semakin jelas semakin kentara, kemudian perlahan memudar dan selebihnya benar-benar hilang tanpa pesan.
Jarang sekali aku melihat sinar matanya yang tajam dihiasi barisan bulu mata yang begitu lentiknya. Pernah sesekali kami bertabrakan pandang. Pernah sesekali kami saling melihat kemudian saling melempar senyum. Ya hanya tersenyum kemudian kembali menoleh. Kembali melihat apa yang dari awal terlihat. Tanpa peduli apa dan siapa yang disenyumi barusan.
Kembali aku hanya bisa memandang punggungnya yang semakin lama semakin pudar. Pudar termakan jarak yang semakin lama semakin jauh terasa. Pudar termakan usia. Pudar tertutup polusi ibu kota. Kemudian hilang, akibat pernyataan para ahli yang menyebutkan bahwa bumi itu bundar. Punggung yang awalnya besar semakin lama mengecil menjauh kemudian hilang begitu saja. Tanpa menoleh atau mengucap sayonara. Bagaimana mungkin? Diawal perjumpaanpun kami tak saling mengucapkan salam perjumpaan. Biarlah, bumi itu bundar. Saat kita berjalan lurus kita akan kembali ke posisi semula. Ya! Semoga saja.

Advertisements